Menu

Kamis, 18 Oktober 2018

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING (DD/CT) SISWA KELAS VI SD NEGERI TAHUN AJARAN 2016/2017


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. Sistem dapat diartikan satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Ada tiga ciri utama sistem. Pertama, suatu sistem memiliki tujuan tertentu; kedua, untuk mencapai tujuan sebuah sistem memiliki fungsi-fungsi tertentu; ketiga, untuk menggerakkan fungsi, sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen.
Setiap pembelajaran memiliki tujuan dan fungsi tertentu. Untuk mencapai semua itu perlu adanya model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Menurut Wina Sanjaya, “Proses pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi antara guru dengan siswa melalui bahasa verbalis sebagai media primer dalam penyampaian materi pelajaran.”
Dalam proses belajar mengajar, guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting. Sebab guru masih dianggap sebagai unsur penentu dalam meningkatkan prestasi atau hasil belajar yang maksimal. Peranan guru, selain mengajar, mendidik, dan melatih siswa, guru hendaknya mampu memberikan motivasi belajar siswa. Di antara usaha munculnya motivasi pada diri siswa banyak dipengaruhi oleh guru dan media pendukung apa yang digunakan dalam pembelajaran.Kualitas pendidikan merupakan aspek terpenting dalam usaha pembangunan yang sedang dilaksanakan di Indonesia. Hal ini sangat erat hubungannya dengan tujuan pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya. Melalui pendidikan diharapkan harkat dan martabat masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan, baik di kalangan nasional maupun internasional.
Kualitas pendidikan yang baik berfungsi mendorong perubahan agar mutu kehidupan masyarakat dapat meningkat. Melalui pendidikan dapat dibentuk manusia yang berakhlak mulia, berilmu, cakap, peka terhadap masalah sosial, serta mampu menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan senantiasa dilakukan agar menghasilkan manusia yang semakin berkualitas.
Proses belajar mengajar di dalam kelas sangat bergantung dengan bagaimana guru menyajikan pembelajaran tersebut kepada siswa. Jika seorang guru hanya berdiri di depan kelas dengan menyampaikan materi secara verbal tanpa dibantu dengan media pembelajaran yang mampu memvisualisasikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan, maka sangat dimungkinkan siswa akan merasa bosan dan sulit untuk memahami materi dengan baik.
Standar Nasional Pendidikan menjelaskan, terdapat standar proses yang menjadi kegiatan utama dalam meraih ilmu di sekolah. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, memotivasi peserta didik untuk giat, serta memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik dalam menyalurkan bakat, minat dan potensi. Proses tersebut menentukan hasil pembelajaran peserta didik. Selain standar proses, adapula standar tenaga pendidikan. Tenaga pendidik atau guru, merupakan salah satu kunci kesuksesan dalam proses pembelajaran. Guru menjadi agen perubahan dalam pendidikan khususnya di Indonesia. Guru juga yang menjadi kunci keberhasilan bagi peserta didik dan institusi yang menaungi jabatan atau profesinya. Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah yakni faktor dari dalam diri siswa (intern) dan faktor dari luar diri siswa (ekstern). Faktor dari dalam diri siswa diantaranya adalah: kecerdasan, bakat, minat, motivasi diri, disiplin diri dan kemandirian.
Sedangkan faktor dari luar diri siswa adalah dapat berupa lingkungan alam, kondisi sosial, ekonomi, lingkungan sekolah, guru, kurikulum dan sebagainya. Jadi, dalam hal ini rendahnya prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yang telah disebutkan di atas. Dari faktor-faktor tersebut yang paling menentukan adalah faktor dari dalam diri siswa itu sendiri untuk menentukan keberhasilan dalam belajar. Sebab dalam proses belajar adalah siswa tersebut sebagai subyek belajar Dalam hal ini faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ekonomi siswa adalah penggunaan sumber belajar di sekolah, hal ini meliputi sumber belajar tercetak, non cetak, fasilitas belajar ataupun lingkungan sekolah. Selain itu untuk memperoleh pengalaman dan untuk latihan yang baik diperlukan adanya sumber belajar yang baik. Sumber belajar merupakan sesuatu yang penting karena dapat turut memperlancar proses belajar mengajar (PBM).
Guru bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan siswa. Tanpa disadari faktor penentu keberhasilan dalam proses belajar mengajar adalah siswa sebagai pelaku dalam kegiatan belajar. Tanpa kesadaran , kemauan, dan keterlibatan siswa, maka proses belajar mengajar tidak akan berhasil. Dengan demikian dalam proses belajar mengajar siswa ditutut memiliki sikap mandiri, artinya siswa perlu memiliki kesadaran, kemauan, dan motivasi dari dalam diri siswa bukan semata-mata tekanan guru maupun pihak lain.
Adanya inovasi-inovasi di bidang pendidikan ini akan memberikan harapan besar bagi peningkatan mutu lulusan pendidikan. Untuk itu dengan adanya inovasi pembelajaran yang berbasis Deep Dialog/Critical Thinking ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia sehingga mampu mengangkat nama Indonesia dan membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (Student centered approach) dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (Teacher centered approach).
Pendekatan dengan berbasis Deep Dialog/Critical Thinking mampu menjadi penggerak yang unggul untuk membantu peserta didik belajar karena Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) menggunakan semua metode pembelajaran yang telah digunakan sebelumnya seperti multiple intelligences, belajar aktif, keterampilan proses ataupun Partnership Learning Methode. Dengan begitu, maka guru dapat memberikan variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan monoton.
Pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif, menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta dan melahirkan imajinatif atas ide-ide lokal dan tradisional, sehingga dapat meningkatkan peserta didik untuk berfikir mandiri. Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) menekankan pada nilai, sikap, kepribadian, mental, emosional dan spiritual sehingga peserta didik belajar dengan menyenangkan dan bergairah.
Seperti halnya pelajaran pendidikan agama Kristen, banyak siswa menganggap bahwa mata pelajaran pendidikan agama Kristen adalah mata pelajaran yang penuh dengan hafalan dan membosankan. Kecenderungan ini menyebabkan rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Siswa menjadi pasif, bahkan siswa lebih sering bergurau dan gaduh di dalam kelas. Kemampuan berpikir kritis siswa juga rendah. Siswa hanya sekedar menghafal materi tanpa memiliki keinginan untuk mengemukakan pendapat dan memecahkan masalah pada saat pembelajaran Pendidikan Agama Kristen berlangsung.
Berdasarkan uraian di atas, maka upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan minat belajar Pendidikan Agama Kristen salah satunya dengan model pembelajaran deep dialogue/ critical thinking. Model pembelajaran deep dialogue/ critical thinking adalah suatu model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen.
Maka dari itu guru melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Meningkatkan Minat Belajar Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) Siswa Kelas VI SD Negeri  Parlilitan Tahun Ajaran 2016/2017”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka perumusan masalah dari PTKl ini adalah sebagai berikut: Apakah model pembelajaran  Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT)  dapat meningkatkan hasil belajar pendidikan agama kristen siswa kelas VI di SD Negeri tahun ajaran 2016/ 2017?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a. Dengan model pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat membuat siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
b. Dengan penerapan model pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) diharapkan Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Minat Belajar Siswa.
2. Bagi Guru
Dapat mengenalkan suatu model pembelajaran baru yang dapat diterapkan pada siswa sehingga menambah variasi dalam penyampaian materi Pendidikan Agama Kristen.
3. Bagi Sekolah
Sebagai bahan kajian bersama yang diharapkan dapat meningkatkan mutu sekolah yang bersangkutan.
4. Bagi Peneliti
Pelaksanaan materi ini dapat menambah wawasan baru dalam model pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) bisa digunakan dalam  proses mengajar di masa mendatang. Dan PTK ini merupakan persyaratan untuk kenaikan pangkat dari golongan IIId ke IVa.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Model Deep Dialogue/ Critical Thinking
1.      Pengertian Model Deep Dialogue/ Critical Thinking

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAPPING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS IV SD NEGERI TAHUN AJARAN 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Dalam mengimbangi Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) yang semakin canggih dan modern, dalam dunia pendidikan sangat diperlukan pembaharuan guna menghasilkan siswa/i yang berkwalitas tinggi nantinya. Pembaharuan ini dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak-pihak yang terkait dalam dunia pendidikan. Yang semuanya membutuhkan usaha aktif dan kratif dari tenaga pendidik, oleh sebab itu guru harus bijak dalam menentukan metode yang digunakan dalam proses KBM sehingga dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif supaya proses belajar dan mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Perlu diketahui bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Atau pengertian pendidikan pada dasarnya adalah usaha manusia (pendidik) untuk dengan penuh tanggung jawab membimbing anak didik menjadi kedewasaan.
Pembenahan maupun pembaharuan dalam dunia pendidikan dilakukan melalui seminar, loka karya, penyempurnaan kurikulum, pelatihan-pelatihan, yang ditujukan untuk guru-guru atau tenaga pendidikan lain mengenai metode pembelajaran maupun materi pelajaran. Namun, sebuah permasalahan yang sampai saat ini masih terus terjadi dimana pendidikan adalah pengajaran yang berlangsung secara monoton sehingga terjadi kejenuhan pada siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini dapat dilihat pada saat guru menerangkan, banyak siswa yang mengantuk, mengobrol dengan sesama teman. Kejenuhan yang diakibatkan oleh monotonnya proses belajar mengajar mengakibatkannya perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap materi pelajaran menurun.
Permasalahan diatas dapat mengakibatkan pada rendahnya tingkat prestasi belajar siswa. Hal ini terlihat pada hasil prestasi belajar siswa yang masih banyak dibawah standar Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan di SDN yaitu nilai 65 (enam puluh lima). Sebagai pengantisipasi masalah di atas dan untuk menumbuhkan interaksi antara guru dengan siswa secara efektif perlu diupayakan dengan menggunakan metode. Metode yang efisien, efektif dan tepat. Hal ini diharapkan supaya aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dapat tercapai.
Oleh karena itu metode harus dipilih sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Karena tidak ada suatu metode yang paling baik untuk semua materi, maka pemakaian metode harus disesuaikan dengan materi masing-masing. Beberapa pemakaian metode yang
harus disesuaikan dengan materi disamping untuk mencapai sasaran yang tepat, juga untuk mengurangi kejenuhan pada diri peserta didik. Perlu diingat bahwa pendidikan Agama Kristen terdapat dalam semua jenjang sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Ini berarti akan terjadi pengulangan-pengulangan yang menyebabkan pada kebosanan. Oleh karena itu, kesan yang timbul kemudian adalah “menyepelekan” terhadap pendidikan agama, karena disamping materinya hanya berupa pengulangan-pengulangan, juga metode yang disampaikan tidak menarik.
Dan apabila melihat proses pendidikan selama ini terdapat kesan bahwa proses
pembelajaran kurang memperhatikan potensi serta kinerja otak, padahal jika dilatih dapat mengeluarkan cahaya pengetahuan kesegala penjuru karena jaringan syaraf otaknya berkesinambungan membentuk bulatan bola yang dihubungan oleh syaraf yang miliaran jumlahnya.
Berdasarkan permasalahan yang ada di atas, timbullah suatu pemikiran dibenak peneliti untuk mencoba menawarkan sebuah inovasi baru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode Mind Mapping. Dimana metode ini mengoptimalkan potensi otak dalam proses KBM. Dan diharapkan ada suasana baru dalam KBM yang bisa memfokuskan siswa pada pelajaran dan bisa meningkatkan hasil belajarnya. Sesuai dasar pemikiran, maka penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode Mind Mapping Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas IV SD Negeri  Tahun Ajaran 2015/2016”.

B. Penegasan Istilah
Guna menghindari permasalahan yang bisa menimbulkan kesalah pahaman dan ekeliruan pengertian. Dan demi kemudahan penulis maupun pembaca dalam memahami PTK ini, maka penulis akan menegaskan dan menjelaskan beberapa istilah diantaranya:
1.Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Atau hasil belajar adalah suatu aktifitas psikis atau mental yang berlangsung dalam menginteraksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan yang relatif konstan dan berbekas.

2. Metode Mind Mapping Metode
Mind Mapping disebut juga peta pikiran yaitu suatu cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran. Mind Map adalah sebenarnya suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Atau bisa dikatakan suatu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual, peta pikiran ini memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang dengan keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal.

C.Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah dihadapi diatas, maka pada penelilitian tindakan kelas ini peneliti dapat memunculkan permasalahan apakah Metode Mind Mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di kelas IV SD Negeri ?

D. Tujuan Penelitian
Setelah dipaparkan tentang permasalahan yang peneliti ambil diatas, maka tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas IV SD Negeri  Tahun Ajaran 2015/2016.

E. Manfaat Penelitian
a.Secara Teoritis
Hasil penelitian atau temuannya tentang Mind Mapping ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan pada umumnya dan bidang pembelajaran agama Kristen khususnya.
b.Secara Praktis
Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan atau diterapkan oleh tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas sehari-harinya baik sebagai pengelola sekolah, guru dan siswa sendiri.
1. Bagi Guru dapat memberikan masukkan tentang metode pembelajaran Mind Mapping dengan menyenangkan.
2. Bagi Kepala Sekolah dengan adanya hasil temuan penelitian ini Kepala Sekolah dapat menindaklanju ti tentang hasil temuan ini untuk menentukan kebijakan selanjutnya.


BAB II
LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori

Sabtu, 13 Oktober 2018

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS IV SD NEGERI TAHUN PELAJARAN 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan Agama Kristen adalah usaha sadar, terstruktur (sistematis) yang bertujuan memberi perubahan kepada anak dalam kemampuan berpikir (pengetahuan), kemampuan sikap dan ketrampilannya yang didasarkan pada nilai-nilai Kristen yang bersumber dari Alkitab sehingga menolong anak untuk mampu hidup dalam masyarakat. Sejalan dengan itu, pengajaran Pendidikan agama Kristen harus diarahkan pada pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap kenyataan sosial. Tujuannya untuk menghasilkan perubahan pada diri siswa dan juga untuk menciptakan efektivitas belajar mengajar. Dengan demikian upaya strategis untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen akan segera terwujud.
Guru sebagai pendidik sangat berperan penting dan sangat menentukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, karena guru terlibat langsung dalam proses belajar mengajar dan kemampuan profesional seorang guru sangat dibutuhkan, termasuk juga kemampuan dalam memanfaatkan dan menggunakan metode strategi belajar yang tepat dalam meningkatkan aktivitas dalam proses dan hasil belajar siswa sehingga siswa menjadi lebih mudah dalam memahami pembelajaran dan dengan pembelajaran itu pula siswa akan senang dan termotivasi untuk belajar serta tidak mudah jenuh.
Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain metode belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar harus tepat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep pendidikan agama Kristen.
Berdasarkan observasi awal peneliti, proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di kelas IV SD Negeri menunjukkan bahwa standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang telah ditetapkan adalah 70. Dengan bukti hasil belajar Pendidikan Agama Kristen masih rendah, hal ini dapat dilihat dengan bukti dari 21 orang siswa hanya sekitar 25,62% siswa yang berhasil mendapatkan nilai di atas rata-rata 70 atau sekitar 6 orang siswa. Sedangkan 74,37% atau sekitar 15 orang siswa mendapat nilai rata-rata di bawah KKM yang telah ditetapkan sekolah.
Rendahnya hasil belajar siswa ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu beberapa topik pembelajaran pendidikan agama Kristen yang masih sulit dikuasai siswa hal ini dikarenakan metode pengajaran yang digunakan masih berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, kemudian dalam menyampaikan materi pelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah, aktivitas siswa kurang karena siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan dari guru faktor-faktor tersebut di atas terjadi karena sebagian siswa kurang aktif di dalam belajar, siswa tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan baik, siswa tidak bisa menarik kesimpulan dari pelajaran yang diberikan pada saat pembelajaran berlangsung, siswa sering keluar, mengganggu teman, tidak mau bertanya bila tidak mengerti, ketika diadakan evaluasi diakhir pembelajaran masih banyak siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian pendidikan. Dalam hal ini, penulis ingin mengangkat satu judul yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini, yaitu: Penerapan Pembelajaran Berbasis Portofolio Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas IV SD Negeri Tahun Pelajaran 2015/2016”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen pada umumnya kurang diminati oleh siswa karena cara mengajar guru yang monoton.
2. Metode dan teknik pembelajaran yang masih konvensional dan terkadang membuat suasana belajar menjadi kurang menyenangkan.
3. Hasil belajar pendidikan agama Kristen yang masih rendah.
4. Kurangnya respon siswa untuk memperhatikan penjelasan guru ketika proses pembelajaran berlangsung.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian lebih terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian. Oleh karena itu, penulis memfokuskan kepada pembahasan atas masalah-masalah pokok yang dibatasi dalam konteks permasalahan yang terdiri dari:
1. Metode yang digunakan yaitu berbasis portofolio.
2. Hasil belajar siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Kristen.
D. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian ilmiah. Perumusan masalah berguna untuk mengatasi kerancuan dalam pelaksanaan penelitian. Berdasarkan masalah yang dijadikan fokus penelitian, masalah pokok penelitian tersebut bisa dirumuskan yaitu:
1.  Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis portofolio dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen?
2.  Bagaimana hasil belajar siswa didalam mengikuti pelajaran pendidikan Agama Kristen siswa setelah penerapan pembelajaran berbasis portofolio?
E. Tujuan Penelitian
1.  Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di SD Negeri.
2.  Untuk mengetahui minat belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Siswa SD Negeri .
F. Kegunaan Hasil Penelitian.
a.  Bagi Sekolah, hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai masukan dalam metode pembelajaran sekolah, sehingga proses serta hasil kegiatan belajar mengajar optimal.
b.  Bagi Guru, di harapkan dapat mengunakan metode variatif, yaitu menggunakan metode yang dapat melibatkan siswa secara aktif , salah satunya adalah metode pembelajaran metode Portofolio, agar proses belajar mengajar menjadi aktif, efektif dan menyenangkan.
c. Bagi Siswa, di harapakan berani mengemukakan pendapat, ide dan gagasan yang mereka miliki, dan juga dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen, sesuai dengan tujuan yang di harapkan.
d.  Bagi peneliti, mendapat pengalaman langsung dalam pelaksanaan model pembelajaran, sebagai persyaratan (unsur utama) untuk kenaikan pangkat jabatan fungsional tertentu dari golongan IIId ke Golongan IVa.


BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Teori

PENERAPAN METODE TANDUR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN PADA SISWA KELAS XII SMK NEGERI 1 TAHUN PELAJARAN 2016/2017


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan di suatu sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang dimaksud misalnya guru, siswa, kurikulum, lingkungan sosial, dan lain-lain. Namun dari faktor-faktor itu, guru dan siswa faktor terpenting. Pentingnya faktor guru dan siswa tersebut dapat diruntut melalui pemahaman hakikat pembelajaran, yakni sebagai usaha sadar guru untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan kebutuhan minatnya.
Guru sebagai unsur pokok penanggung-jawab terhadap pelaksanaan dan pengembangan proses belajar mengajar, diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa. Untuk mencapai efektifitas dan efisiensi tersebut, maka diperlukan adanya strategi yang tepat dalam mencapai tujuan belajar mengajar yang diharapkan. Berdasarkan keterangan di atas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran di suatu sekolah pada hakikatnya adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk membuat siswa belajar.
Di SMK Negeri  masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam menggunakan strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang diharapkan. Karena guru dituntut untuk mengejar target materi yang cukup banyak dan harus diselesaikan pada setiap semester. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen yang memerlukan banyak variasi metode, media, maupun sumber belajar tak luput dari hal tersebut. Karena mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen terdapat materi yang memerlukan praktik langsung (pengamalan). Melalui praktik (pengamalan) siswa akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru. 
Dalam suasana belajar mengajar di lapangan dalam lingkungan sekolah sering kita jumpai beberapa masalah. Para siswa meskipun mendapatkan nilai-nilai yang tinggi dalam sejumlah mata pelajaran, namun mereka tampak kurang mampu menerapkan perolehannya, baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap kedalam situasi yang lain. Para siswa memang memiliki sejumlah pengetahuan, namun banyak pengetahuan itu diterima dari guru sebagai informasi, sedangkan mereka sendiri tidak dibiasakan menemukan sendiri pengetahuan itu, akibatnya pengetahuan itu tidak bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Realitas pembelajaran tersebut bermula dari pola pembelajaran guru yang sebagian besar model pembelajaran dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan tampaknya lebih banyak menghambat dari pada memotivasi potensi otak. Misalnya seorang anak didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang harus mau mendengarkan dan mentaati segala perlakuan gurunya.
Ada stigma yang muncul dalam masyarakat mengenai proses pendidikan (pengajaran) baik di sekolah-sekolah selama ini diaplikasikan dengan strategi atau model pembelajaran yang sangat membosankan dan kurang memberikan suasana nyaman bagi peserta didik, siswa kurang bergairah dan kurang antusias, bahkan tidak memperhatikan apa yang disampaikan. Banyak kalangan pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada satu pokok bahasan, baik yang sedang diceramahkan guru atau yang sedang dihadapinya di meja belajar, hampir selalu dirasakan sebagai beban bukan sebagai upaya aktif untuk memperoleh ilmu. Berkaitan dengan fenomena diatas, paradigma pembelajaran yang sedang berlangsung perlu disempurnakan.
Dalam hal ini guru merupakan salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial. Oleh karena itu guru merupakan salah satu unsur dalam proses pendidikan harus berperan aktif menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka proses belajar mengajar yang dilakukan disekolah dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu mandiri. Berkualitas dan tidaknya suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor pendidik atau guru yang mengajar. Guru yang menjadi pendidik pun dituntut untuk berupaya mencari terobosan dan menemukan strategi atau model pembelajaran yang tepat guna mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik.
Untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan diperlukan model pembelajaran yang sesuai dan tepat yang diterapkan dalam suatu proses pembelajaran. Metode yang dimaksud ialah metode TANDUR. Metode TANDUR ini ialah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, yang menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas-interaksi yang mendirikan landasan dalam kerangka untuk belajar. 
Kenyataannya, model pembelajaran tersebut belum banyak diterapkan dalam proses pendidikan di Indonesia. Di samping model itu tergolong baru dan belum banyak dikenal oleh komunitas pendidikan di lndonesia, kebanyakan guru lebih suka mengajar dengan model konvensional, yaitu model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centred instruction). 
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, perlu kiranya suatu tindakan guru untuk mencari dan menerapkan suatu model pembelajaran alternatif yang mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep Pendidikan agama Katolik melalui penelitian berjudul: " Penerapan Metode TANDUR Dalam  Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Pada Siswa Kelas XII SMK Negeri Tahun Pelajaran 2016/2017”.
B. Identifikasi Masalah
1. Masih kurangnya penerapan metode yang mengajak siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Katolik di SMK Negeri 1.
2. Masih banyaknya guru yang hanya menggunakan metode lama dalam mengajar di SMK Negeri 1.
3.  Masih banyaknya siswa yang belum aktif dalam mengikuti pembelajaran terutama pada mata pelajaran pendidikan agama Katolik di SMK Negeri 1.
4.  Hanya beberapa siswa yang berperan aktif pada saat proses pembelajaran baik bertanya maupun menjawab pertanyaan.
C. Batasan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1.  Mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan Materi Pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah metode pembelajaran dengan menggunakan TANDUR.
2.  Mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan Materi Pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah, pembelajaran tidak menggunakan metode TANDUR.
3.  Siswa yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII-A dan Kelas XII-B, sebagai Kelas eksperimen dan sebagai Kelas control di SMK Negeri.


D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis rumuskan masalah yang hendak diteliti adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan metode TANDUR pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SMK Negeri 1?
2.     Bagaimana hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan metode TANDUR pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SMK Negeri 1?
3.     Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SMK Negeri 1?
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan metode TANDUR pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan materi Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah di SMK Negeri 1?
2.  Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan metode TANDUR pada mata pelajaran pendidikan agama Katolik dengan materi pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah di SMK Negeri 1?
3.  Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SMK Negeri 1?
2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut: a. Secara Teoritis: hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi khazanah ilmu pengetahuan dan diharapkan kajian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
b. Secara Praktis: hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru dan kepala sekolah dalam upaya meningkatan keberhasilan proses pembelajaran dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.     Metode TANDUR
1.    Pengertian Metode TANDUR

Rabu, 10 Oktober 2018

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS V SD NEGERI TAHUN PELAJARAN 2016/2017


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai usaha membentuk pribadi manusia harus melalui proses yang panjang, dengan hasil (resultan) yang tidak dapat diketahui segera. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan kepribadian baik jasmani maupun rohani ke arah yang lebih baik dalam kehidupannya, sehingga semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin penting pula adanya pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dalam pelaksanaan pendidikan pemerintah telah mengupayakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran Nasional yang diatur dalam undang-undang. Untuk itu pemerintah memberikan hak pada warganya untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan ini dimulai dari lingkungan keluarga sebagai Lembaga pendidikan, kemudian pendidikan di lingkungan masyarakat sebagai pendidikan nonformal, oleh karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching dengan demikian adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. 
Dalam keseluruhan proses pendidikan kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik.
Maka profil seorang pendidik sebagai personil yang menduduki posisi strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia pengajaran. Guna mencapai dunia pendidikan itu sendiri, dalam hal ini tentunya diperlukan suatu cara atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimaksud yaitu model belajar mencapai dunia pendidikan itu sendiri, dalam hal ini tentunya diperlukan suatu cara atau alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimaksud yaitu model belajar.
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian,dan fasilitasi super camp diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligences (Gardner), Neuro- linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Experiental Learning yang (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson), dan Elements Of Effective Instruction (Hunter), Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, mulltikecerdasan, dan kompatible dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. sebagai sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis, dan mudah diterapkan, Quantum Teaching menawarkan suatu sintesis dari hal-hal yang anda cari: cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran anda melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar, dan penyampaian kurikulum. Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar.
Peningkatan kreatifitas siswa dapat diperhatikan, baik peningkatan kemampuan berpikir maupun kemampuan menyerap atau mengingat ciri-ciri kepribadian yang kreatif, mengingat perkembangan yang optimal dari prestasi berhubungan cara mengajar. Dalam suasana non otoriter, ketika belajar atas prakasa sendiri dapat dikembangkan, karena guru menaruh kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk berpikir dan berani mengungkapkan gagasan baru dan ketika anak diberi kesempatan sesuai minat dan kebutuhannya, dalam hal ini kreatifitas siswa dapat berkembang dengan baik.
Berdasarkan pengamatan penulis dalam melihat proses belajar mengajar di SD Negeri 177060 Huta Baris pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di temui gejala-gejala atau fenomena khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Kristen yaitu sebagai berikut :
1.  Hasil belajar siswa masih tergolong rendah atau belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) belajar yang telah ditetapkan
2.  Sebagian siswa kurang tanggap terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen yang disampaikan oleh guru ketika pembelajaran berlangsung.
3.  Siswa lebih banyak diam dan menerima apa adanya, tidak adanya kreatifitas dan keaktifan siswa.
4. Masih kurangnya pemahaman siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen
Berdasarkan gejala-gejala diatas penulis tertarik akan melakukan penelitian dengan judul: "Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas V SD Negeri Tahun Pelajaran 2016/2017”.
B. Identifikasi Masalah
1. Masih kurangnya penerapan metode yang mengajak siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Negeri.
2. Masih banyaknya guru yang hanya menggunakan metode lama dalam mengajar di SD Negeri.
3.  Masih banyaknya siswa yang belum aktif dalam mengikuti pembelajaran terutama pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Negeri.
4.  Hanya beberapa siswa yang berperan aktif pada saat proses pembelajaran baik bertanya maupun menjawab pertanyaan.
C. Batasan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1.  Mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan Materi Pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah metode pembelajaran dengan menggunakan Quantum  Teaching.
2.  Mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan Materi Pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah, pembelajaran tidak menggunakan metode Quantum  Teaching.
3.  Siswa yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V-A dan Kelas V-B, sebagai Kelas eksperimen dan sebagai Kelas control di SD Negeri.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis rumuskan masalah yang hendak diteliti adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan metode Quantum  Teaching pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen  di SD Negeri?
2.     Bagaimana hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan metode Quantum  Teaching pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Negeri ?
3.     Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Negeri?
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan metode Quantum  Teaching pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan materi Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah di SD Negeri ?
2.  Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan metode Quantum  Teaching pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen dengan materi pembelajaran Memahami makna firman Allah dalam mengembangkan kehidupan bersama-sama dengan kehendak Allah di SD Negeri ?
3.  Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Negeri ?
2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Secara Teoritis: hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi ilmu pengetahuan dan diharapkan kajian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
b.    Secara Praktis: hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru dan kepala sekolah dalam upaya meningkatan keberhasilan proses pembelajaran dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.     Metode Quantum  Teaching
1.    Pengertian Metode Quantum  Teaching