Menu

Senin, 29 Oktober 2018

PENGGUNAAN METODE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGUASAI KOMPETENSI DASAR MUSA DIUTUS TUHAN MATA PELAJARAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS IV SD NEGERI T.A 2014/2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu usaha yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sebagai kunci pokok untuk mencapai cita-cita suatu bangsa. Yang mana untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu dilakukan usaha yang semaksimal mungkin dari guru, guru harus mampu dalam mengelola komponen pembelajaran dan kreatif dalam mengembangkan materi pelajaran sehingga materi pelajaran tersebut dapat diserap oleh peserta didik sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai.
Di dalam peningkatan mutu pendidikan pada masa sekarang ini, perlu diiringi proses belajar mengajar. Di dalam proses belajar mengajar harus memiliki metode agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta mengenai tujuan yang diharapkan.
Salah satu langkah untuk strategi itu ialah harus menguasai tehnik-tehnik pengajaran atau biasanya disebut metode pengajaran. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun untuk menjawab suatu pertanyaan. Jadi metode pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.

Menurut  Suprayektif (2003: 10) menyatakan bahwa:
Hasil belajar merupakan faktor yang penting dalam pelaksanaan pendidikan, karena hasil belajar merupakan tolak ukur keberhasilan pendidikan. Hasil belajar yang baik tergantung pada pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang sesuai dengan perencanaan pembelajaran. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar dipengaruhi oleh empat faktor. Keempat factor tersebut adalah guru, siswa, kurikulum, dan faktor lingkungan.

Pada saat belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru (Slavin, 1995; Eggen & Kauchak). Artzt & Newman (1990: 448) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Team Games Tournament (TGT). Pembelajaran kooperatf tipe TGT adalah satu model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcemen.
Berdasarkan uraian di atas guru Mapel untuk membahas masalah dengan judul penelitian ”Penggunaan Metode Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menguasai Kompetensi Dasar Musa diutus Tuhan Mata Pelajaran Agama Kristen Siswa Kelas IV B SD Negeri  T.A 2014/2015.”

1.2.  Identifikasi Masalah
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian yaitu:
1.         Siswa masih pasif dalam mengikuti pembelajaran.
2.         Metode pembelajaran yang digunakan guru kurang sesuai dengan KD.
3.         Kemauan belajar siswa terhadap mata Pelajaran Agama Kristen masih rendah.
4.         Guru kurang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
5.         Guru kurang melakukan variasi metode dalam pembelajaran Agama Kristen.

1.3.  Pembatasan Masalah
Mengingat keterbatasan peneliti baik dari segi kemampuan waktu dan biaya, maka guru membatasi permasalahan yang diteliti. Adapun batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah ”Penggunaan Metode  Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menguasai Kompetensi Dasar Musa diutus Tuhan Mata Pelajaran Agama Kristen Siswa Kelas IV SD Negeri  Pollung T.A 2014/2015.

1.4.  Rumusan Masalah
            Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah dengan menggunakan metode Team Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata Pelajaran Agama Kristen pokok bahasan Musa diutus Tuhan di Kelas IV B SD Negeri?
1.5.  Tujuan Penelitian
            Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Team Games Tournament (TGT) pada mata Pelajaran Agama Kristen pokok bahasan Musa diutus Tuhan di Kelas IV B SD Negeri T.A 2014/2015.

1.6.  Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat yang ingin dicapai setelah melakukan penelitian adalah:
1.    Mendorong siswa berfikir positif untuk menyenangi Pelajaran Agama Kristen dan menghilangkan pandangan negatif anak terhadap Pelajaran Agama Kristen.
2.    Sebagai bahan pertimbangan kepala sekolah tentang pentingnya penggunaan metode Team Games Tournament (TGT) dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.
3.         Sebagai masukan bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar sekolah.
4.         Dan sebagai bahan usul kenaikan pangkat satu tingkat.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1.  Kajian Teoritis
2.1.1. Hakikat Hasil Belajar

Minggu, 28 Oktober 2018

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN WORD SQUARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS III SD TAHUN AJARAN 2017/2018

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam menghadapi tuntutan situasi perkembangan zaman dan pembangunan nasional, sistem pendidikan nasional harus dapat dilaksanakan secara tepat guna dalam berbagai aspek, dimensi, jenjang, dan tingkat pendidikan. Keadaan semacam itu pada gilirannya akan menuntut para pelaksana dalam bidang pendidikan diberbagai jenjang untuk mampu menjawab tuntutan tersebut melalui fungsinya sebagai guru. Guru merupakan ujung tombak yang berada pada garis terdepan yang langsung berhadapan dengan siswa.
Siswa adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran, siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Jadi dalam proses pembelajaran yang diperhatikan pertama kali adalah siswa.
Berdasarkan fenomena yang ada di siswa kelas III SD yaitu:
1.    Siswa kurang memahami materi, terlihat lebih dari 65% siswa yang rendah nilai pada saat mengerjakan tugas sehingga nilai siswa banyak yang di bawah KKM.
2.    Dari 16 orang siswa, yang bisa menjawab soal evaluasi guru hanya 6 orang siswa atau sebesar 40%, sedangkan sisanya 10 orang atau 60% masih banyak diam.
3.    Jika diberi soal, hanya 5 orang siswa atau sebanyak 25% yang bisa menjawab dengan benar.
Permasalahan yang berkenaan dengan siswa di kelas, jika tidak dicari solusi dan dibiarkan berlalu begitu saja, akan lebih kompleks dan berlarut-larut. Akibatnya, akan dirasakan pada ketidak-kompetenan siswa di masyarakat yang berhubungan dengan materi pelajaran. Permasalahan siswa maupun guru selama proses belajar, menjadi prioritas, untuk secepatnya diteliti penyebab dan solusinya. Hal itu perlu dipahami oleh seorang guru, karena keberhasilan belajar siswa ditentukan, sejauh mana guru memiliki inisiatif perbaikan terhadap prosedur dan hal yang berkaitan dengan proses yang telah dilakukan.
Mengingat pentingnya penguasaan pelajaran Pendidikan Agama Kristen oleh siswa maka guru perlu berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melakukan beberapa usaha perbaikan, terutama dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah menerapkan strategi atau model pembelajaran yang bertujuan mengaktifkan siswa yaitu supaya siswa dapat meningkatkan hasil belajar mereka.
Maka peneliti perlu melakukan perbaikan cara mengajar melalui penggunaan strategi pembelajaran. Saat ini pembelajaran kooperatif semakin berkembang. Strategi pembelajaran yang dikenal oleh peneliti saat ini adalah strategi pembelajaran word square. Strategi pembelajaran word square dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif.
Adapun kelebihan dari strategi pembelajaran word square ini adalah meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban, selain itu pembelajaran inisesuai untuk semua mata pelajaran, dan dapat melatih sikap teliti dan kritis. Lebih lanjut berdasarkan pengamatan penulis selama bertugas di Kelas III SD, berbagai upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah khususnya para guru sebagai pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun upaya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan belajar mengajar sesuai dengan jadwal
2. Membuat persiapan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
3. Menggunakan media pembelajaran
4. Menyampaikan meteri pelajaran sesuai dengan kurikulum dan silabus
Dari fenomena-fenomena atau gejala-gejala tersebut di atas, terlihat bahwa motivasi belajar siswa belum optimal, khususnya pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Hal ini berkemungkinan dipengaruhi oleh cara mengajar guru yang kurang menarik perhatian siswa. Untuk itu peneliti mencoba menerapkan salah satu strategi pembelajaran, salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah dengan penerapan strategi pembelajaran word square.
Berdasarkan permasalahan dan keunggulan dalam strategi pembelajaran word square di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan strategi pembelajaran Word Square untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas III SD”.
B. Definisi Istilah
1. Strategi Pembelajaran Word Square
Word Square adalah sejumlah kata yang disusun sehingga kata-kata tersebut dapat dibaca ke depan dan ke belakang. Word Square adalah salah satu alat bantu/media pembelajaran berupa kotak-kotak kata yang berisi kumpulan huruf. Pada kumpulan huruf tersebut terkandung konsep-konsep yang harus ditemukan oleh siswa sesuai dengan pertanyaan yang berorientasi pada tujuan pembelajaran.
2. Hasil Belajar
Senada menurut Bambang Warsita bahwa hasil belajar adalah suatu
upaya atau proses perubahan perilaku seorang sebagai akibat interaksi perserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada disekitanya. Salah satu tanda seseorang telah mendapatkan hasil belajar yang baik adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan kognitif (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan nilai sikap (afektif).
3.    Penerapan strategi pembelajaran Word Square
Untuk meningkatkan hasil belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah strategi pembelajaran word square dapat meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak kotak jawaban, selain itu pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran, dan dapat melatih sikap teliti dan kritis yang dapat meningkatkan hasil belajar.
C. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka  penulis dapat merumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu: Apakah penerapan strategi pembelajaran Word Square dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas III SD ?
D. Tujuan Penelitan
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi pembelajaran Word Square dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas III SD.
E. Manfaat penelitan
Melalui penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat antara lain:
1. Bagi Siswa
a.  Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen pada khususnya dan semua mata pelajaran pada umumnya.
b. Memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.
2. Bagi Guru
a.  Memberikan suatu pengalaman yang berharga bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran melalui Penggunaan Metode Word Square, sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar.
b.  Diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu model serta bahan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.
3. Bagi Peneliti
a. Menambah pengetahuan khususnya bagi peneliti tentang model atau teknik pembelajaran yang baru.
b.  Sebagai persyaratan untuk mengusul kenaikan pangkat ke golongan IIId.
4. Bagi Sekolah
Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas keberhasilan pembelajaran di III SD. Dalam menentukan kebijakan tentang model pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen diberbagai jenjang pendidikan umumnya, khususnya di sekolah dasar.

BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Strategi Pembelajaran Word Square
Model Pembelajaran Word Square merupakan strategi pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi Teka Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran. Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis.
Word Square adalah sejumlah kata yang disusun sehingga kata-kata tersebut dapat dibaca ke depan dan ke belakang, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hornby dalam Tri Wurianingrum, Word Square adalah sejumlah kata yang disusun sehingga katakata tersebut dapat dibaca ke depan dan ke belakang. Word Square adalah salah satu alat bantu/media pembelajaran berupa kotak-kotak kata yang berisi kumpulan huruf. Pada kumpulan huruf tersebut terkandung konsepkonsep yang harus ditemukan oleh siswa sesuai dengan pertanyaan yang berorientasi pada tujuan pembelajaran. Pembelajaran Word Square berisi pertanyaan yang sesuai dengan pengertian-pengertian penting suatu konsep atau subkonsep. Pertanyaan pertama berupa pertanyaan yang jawabannya berupa kunci. Pertanyaan kedua harus terkait dengan pertanyaan pertama dan merupakan lanjutan dari pengertian tersebut. Begitu seterusnya, sehingga semua pertanyaan sudah mewakili konsep yang akan dipelajari. Setelah itu siswa berdiskusi untuk mendapatkan jawaban dan menemukannya pada kotak-kotak Word Square. Pada akhir pembelajaran, siswa menyimpulkan materi bahasan yang telah didiskusikan.
Menurut Sholeh Hamid, pembelajaran word Square memiliki kelebihan dan tujuan tertentu, secara panjang lebar dideskripsikan dalam uraian berikut ini. Adapun kelebihan dari strategi pembelajaran word square ini adalah meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban, selain itu pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran, dan dapat melatih sikap teliti dan kritis.
Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran. Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari strategi pembelajaran word square ini adalah meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban, selain itu pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran, dan dapat melatih sikap teliti dan kritis.

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS VI SD SWASTA TAHUN AJARAN 2017/2018

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok individu dalam upaya mendewasakan manusia melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan. “Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional, maupun global” (Mulyasa, 2006: 4). Pendidikan di Negara kita saat ini masih belum mencapai sepenuhnya tujuan pendidikan nasional. Seperti yang dituangkan dalam Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Suatu proses pendidikan akan terlaksana dengan adanya pendidik dan peserta didik, jika salah satu tidak ada maka tidak akan tercipta suatu proses pendidikan yang kita kenal sebagai kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal ini seorang pendidik mengajarkan apa yang dia miliki kepada peserta didik dengan berbagai cara dan metode yang diterapkanya untuk bisa diserap oleh peserta didik dengan baik. Tentunya seorang pendidik juga harus mengajarkan agar peserta didik mempunyai sikap, watak, dan kepribadian yang baik, bahakan lebih baik dari sebelumnya. Dengan adanya pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar terciptalah suatu proses pembelajaran.
Proses pembelajaran terdiri dari komponen-komponen penting yang saling berkaitan satu dengan lainya. Interaksi pendidik dengan peserta didik memegang peranan penting dalam mencapai tujuan suatu pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik memiliki kemungkinan gagal dalam menyampaikan materi di kelas, ini dikarenakan saat proses belajar mengajar terjadi kurang menarik perhatian dan aktifitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran khususnya pada pelajaran pendidikan agama Kristen. Terkadang pendidik mengalami kesulitan dalam hal menyampaikan materi kepada peserta didik, sehingga hasil belajar yang diperoleh peserta didik pada pelajaran pendidikan agama Kristen terbilang rendah.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran bisa dilihat dari banyaknya peserta didik yang mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar tersebut. Juga dapat dilihat dari tingkat pemahaman materi, penguasaan materi, serta hasil belajar peserta didik. Semakin tinggi tingkat pemahaman, penguasaan materi dan hasil belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran. Seperti halnya yang diutarakan beberapa siswa di SD, mereka mengatakan “pendidikan agama Kristen itu membosankan dan kurang menarik” sehingga hasil belajar pendidikan agama Kristen siswa cenderung kurang maksimal.
Berdasarkan observasi, pembelajaran pendidikan agama Kristen di SD Swasta ditemukan beberapa kelemahan, diantaranya adalah prestasi belajar yang masih rendah pada pelajaran pendidikan agama Kristen. Hal ini ditunjukan dengan hasil belajar matematika siswa di SD Swasta  rata-rata dibawah nilai KKM yang ditentukan oleh pihak sekolah. Hal tersebut dipengaruhi oleh fakto-faktor yang mempengaruhi hasil belajar khususnya kelas VI pada pelajaran pendidikan agama Kristen, diantaranya : 1) hasil belajar siswa dalam pelajaran pendidikan Agama Kristen yang masih kurang maksimal. 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sudah memberikan waktu untuk bertanya setelah pemberian materi. 3) kurangnya kemauan dalam diri siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan maupun pekerjaan rumah.
Selain faktor dari siswa, peranan guru juga sangat penting dalam hal ini. Kebanyakan guru di SD masih menggunakan metode pembelajaran konvensional dengan metode ceramah khususnya pelajaran pendidikan agama Kristen, dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengan mencatat dan menghafal rumus- rumus matemtika. Tehnik penyampaian guru yang tidak efektif dan tidak terstruktur ini membuat siswa sulit untuk memahami apa yang hendak disampaikan oleh guru tersebut.
Menurut Slameto (2003:35) “mengajar bukan tugas yang ringan bagi seorang guru. Dalam mengajar guru berhadapan dengan sekelompok siswa, mereka adalah makhluk hidup yang memerlukan bimbingan dan pembinaan untuk menuju kedewasaan. Siswa setelah mengalami proses pendidikan dan pengajaran diharapkan telah menjadi manusia dewasa yang sadar dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, wiraswasta, berpribadi dan moral.” Pada dasarnya aktifitas dalam pembelajaran meliputi mendengar, menulis, membaca, mempresentasikan dan diskusi untuk mengkomunikasikan masalah yang ditemukan. Untuk memaksimalkan hasil belajar siswa, maka diskusi kelompok perlu diperhatikan dan dikembangkan lebih baik lagi.
Dengan menerapkan diskusi kelompok diharapkan aspek-aspek komunikasi bisa dikembangkan dan bisa meningkatkan hasil belajar khususnya pada pelajaran pendidikan agama Kristen. Dengan hasil belajar yang kurang maksimal, salah satu solusi untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan membuat siswa mengikuti pembelajaran secara aktif dan tanpa paksaan dalam kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran aktif. Pada dasarnya pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Dimana peserta didik diajak untuk ikut serta dalam proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi melibatkan fisik juga. Dari sekian banyak model pembelajaran aktif, salah satunya adalah model pembelajaran snowball throwing yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan di atas.
Model pembelajaran snowball throwing merupakan suatu cara penyajian dengan kreativitas siswa dalam membuat soal pendidikan agama Kristen dan menyelesaikan soal yang dibuat oleh temanya dengan jawaban sebaik mungkin. Penerapan model pembelajaran snowball throwing dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen melibatkan siswa untuk mampu berperan aktif dengan bimbingan guru tentunya, agar peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep ini dapat terarah lebih baik dan tidak terlalu jauh melenceng dari konsep.
Berdasarkan hal di atas yang sudah peneliti uraikan, maka peneliti akan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing sebagai alternative untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa serta menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, tertarik, bertanggung jawab dan bersikap positif terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.  
Maka dari itu guru akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas VI SD Swasta  Tahun Ajaran 2017/2018”.
 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka perumusan masalah dari PTK  ini adalah sebagai berikut: Apakah model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar mapel Pendidikan Agama Kristen materi pokok Hidup Beriman semester ganjil kelas VI SD Swasta  tahun ajaran 2017/ 2018?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a. Dengan model pembelajaran Snowball Throwing dapat membuat siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
b.  Dengan penerapan model pembelajaran Snowball Throwing diharapkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa meningkat.
2. Bagi Guru
Dapat mengenalkan suatu model pembelajaran baru yang dapat diterapkan pada siswa sehingga menambah variasi dalam penyampaian materi Pendidikan Agama Kristen.
3. Bagi Sekolah
Sebagai bahan kajian bersama yang diharapkan dapat meningkatkan mutu sekolah yang bersangkutan.
4. Bagi Peneliti
  1. Pelaksanaan materi ini dapat menambah wawasan baru dalam model pembelajaran Snowball Throwing bisa digunakan dalam  proses mengajar di masa mendatang.
  2. PTK ini merupakan persyaratan untuk kenaikan pangkat dari golongan IIIc ke IIId.
  
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil 

Rabu, 24 Oktober 2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MELALUI PENERAPAN METODE PROYEK SISWA KELAS IV SD NEGERI TAHUN AJARAN 2016/2017


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Lemahnya proses pembelajaran yang dikembangkan guru dewasa ini, merupakan salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan selera guru. Padahal pada kenyataannya kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran tidak merata sesuai dengan latar belakang pendidikan guru serta motivasi dan kecintaan mereka terhadap profesinya. Ada guru yang dalam melaksanakan pengelolaan pembelajarannya dilakukannya dengan sungguh-sungguh melalui perencanaan yang matang, dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada dan memerhatikan taraf perkembangan intelektual dan perkembangan psikologi belajar anak. Guru yang demikian akan dapat menghasilkan kualitas lulusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan guru yang dalam pengelolaan pembelajarannya dilakukan seadanya tanpa mempertimbangkan faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. 
Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai, dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut maka pendidikan merupakan suatu proses belajar yang harus dilalui oleh seseorang agar terjadi perubahan tingkah laku. Salah satunya adalah melalui Pendidikan Agama Kristen. Rendahnya hasil belajar siswa menurut analisa penulis dipengaruhi oleh cara belajar yang kurang melibatkan siswa dan terkesan monoton. Guru cenderung menyampaikan materi pelajaran dengan ceramah, pembelajaran berkelompok, namun hanya sebahgian siswa yang tergolong aktif. Guru telah berupaya untuk melakukan upaya untuk memperbaiki hasil belajar Pendidikan Agama Kristen seperti dengan membuat tugas yang harus dikerjakan siswa di sekolah maupun di rumah, maupun belajar kelompok namun belum memberikan hasil yang optimal. Upaya yang dilakukan belum mampu meningkatkan nilai ketuntasan belajar siswa. 
Berdasarkan observasi di kelas IV SD Negeri  juga   ditemui gejala-gejala atau fenomena pada pelajaran agama sebagai berikut:
1.      Hasil belajar yang diperoleh siswa belum optimal, hal ini terlihat dari nilai rapor khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, dari 20 siswa terdapat 12  (60%) siswa yang belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) 65 yang ditetapkan.
2.      Kurangnya siswa memahami materi pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen, hal ini terlihat siswa tidak bisa menjawab pertanyan yang diberikan guru.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah menerapkan metode pembelajaran yang bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa yaitu supaya siswa dapat memahami pelajaran pendidikan agama Kristen dengan baik, bersemangat untuk mengerjakan latihan serta mempunyai rasa tanggung jawab dengan tugas. Salah satunya adalah dengan metode Proyek.
Salah satu keunggulan metode proyek adalah dapat merombak pola pikir siswa dari yang sempit menjadi luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan, dan dalam menerapkan metode proyek siswa dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan permasalah di atas, maka penulis tertarik ingin melakukan suatu penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan terhadap pembelajaran dengan judul : “Peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen melalui penerapan Metode Proyek Siswa Kelas IV SD Negeri  Tahun Ajaran 2016/2017 “.
B. Definisi Istilah
1. Peningkatan
Peningkatan adalah menaikkan derajat atau taraf. Menaikkan derajat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas IV SD Negeri.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan-keterampilan.
3. Pendidikan Agama Kristen
Toto Suryana menyatakan bahwa Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang menjadi dasar dan pedoman  hidup bagi manusia dalam mengatur kehidupannya baik dalam hubungannya dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia serta hubungannya dengan alam secara keseluruhan yang terdiri dari aspek-aspek yang berkaitan dengan keyakinan atau credial, yaitu aturan yang mengatur keyakinan seorang terhadap Allah .
4. Metode  proyek
Metode Proyek adalah cara atau proses pembelajaran yang terpadu atau unit yang merupakan satu kesatuan yang mempunyai bagian-bagian, diantara bagian yang satu dan bagian yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
C. Perumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah diatas, maka  penulis dapat merumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu: “Bagaimanakah peningkatan hasil belajar melalui penerapan Metode Proyek pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen siswa di kelas IV SD Negeri?
D. Tujuan dan Manfaat  Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberhasilan penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa Kelas IV SD Negeri.
 2. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan kegunaan atau manfaat sebagai berikut:
a.       Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis.
b.         Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pengambilan tindakan perbaikan untuk selanjutnya, terutama dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa.
c.         Bagi pihak guru penelitian ini bisa menjadi pedoman dalam mengambil tindakan-tindakan untuk meningkatkan hasil belajar.
d.        Bagi pihak sekolah sendiri penelitian ini diharapkan dapat menjadi arsip dan menjadi petunjuk sekolah dalam mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan hasil belajar siswa.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kerangka Teoretis
1. Pengertian Hasil Belajar

PEMANFAATAN MEDIA CETAK UNTUK PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SISWA KELAS V SD NEGERI TAHUN PELAJARAN 2014/2015


BAB I
PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah 
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikongkritkan dengan kehadiran media.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran bukanlah suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, akan tetapi seorang pendidik dituntut untuk bekerja keras mulai dari harus menguasai materi, menyajikan bahan dengan metode yang tepat, mengkondisikan kelas dengan baik, sampai cara memanfaatkan dan mempergunakan media ketika proses belajar mengajar berlangsung. Keberadaan media sangat mendukung keberhasilan siswa dalam mencapai hasil belajar yang lebih baik. Untuk mencapai target tersebut, guru sebagai pembawa pesan perlu menggunakan media yang tepat dan dapat menarik minat siswa serta mudah dijangkau salah satunya dengan menggunakan media pendidikan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menggunakan media cetak materi yang harus dipelajari disajikan dengan lebih ringkas dan sesuai tema tertentu. Penggunaan metode belajar dapat dikondisikan sesuai dengan kerumitan materi yang diajarkan. Metode tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode diskusi, kelompok, debat aktif maupun jenis metode lainnya yang sesuai dengan jenis media cetak yang digunakan oleh guru. Keberadaan media cetak dapat menghindari kelemahan siswa dalam belajar serta meningkat keaktifan siswa dalam kegiatan belajar, misalnya penggunaan media buku, siswa dapat membaca berbagai buku yang berkaitan dengan materi atau tema yang diberikan guru, dengan demikian wawasan bacaan atau informasi dari media buku dapat disalurkan dalam kegiatan belajar dalam mengamati dan memberikan arahan terhadap wawasan yang didapatkan siswa dari media buku tersebut. 
Media pengajaran menurut B. Suryosubroto diartikan sebagai “sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektifitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Ada tiga jenis media ialah audio, media visual dan media audio visual.”
Kedudukan media cetak dalam proses belajar mengajar pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sangat menentukan, sebab meskipun seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah menguasai materi dengan baik dan sudah menggunakan metode yang tepat, namun jika tidak digunakan media dalam menyajikan materi secara praktis, maka tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal. Hal seperti ini mengingat media merupakan sarana untuk membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indra pendengaran dan penglihatan. Dengan adanya media dapat mempercepat proses pembelajaran, karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat.
Media pendidikan merupakan sarana dan prasarana untuk menunjang terlaksana kegiatan pembelajaran tentunya perlu mendapatkan perhatian tersendiri. “Keberadaannya tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses pendidikan, khususnya dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan tanpa adanya media pendidikan, pelaksanaan pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.”Termasuk dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan kedudukan media sangat penting dalam melaksanakan proses pembelajaran dan dapat membantu guru dalam meyampaikan materi secara praktis, karena itu tanpa adanya media pelaksanaan pendidikan tidak akan berjalan dengan baik termasuk proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. 
 Keberadaan media mempunyai arti yang cukup penting dalam pembelajaran, karena media dapat membantu memperjelas materi yang masih samar dan kurang di pahami oleh peserta didik. 
 Dapat di pahami bahwa keberadaan media sangat mendukung keberhasilan siswa dalam mencapai hasil belajar yang lebih baik dan mantap. Untuk mencapai target tersebut, guru sebagai pembawa pesan perlu menggunakan media yang tepat dan dapat menarik minat siswa serta mudah dijangkau, salah satunya dengan menggunakan media pendidikan. 
Kenyataan yang sering terjadi dalam kegiatan proses belajar mengajar guru masih jarang memanfaatkan media, mereka hanya menjelaskan materi yang terdapat dalam buku paket saja dan amat sedikit menggunakan majalah, modul, lembar kerja. Padahal seorang guru dituntut lebih kreatif dalam menyajikan materi seperti mempergunakan media sebagai alat bantu untuk memperjelas materi yang masih sulit dipahami siswa. 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media cetak merupakan proses pengenalan terhadap ide maupun gagasan baru yang di alami oleh siswa dalam memahami apa yang diterimanya dari guru yang mengajar Pendidikan Agama Kristen, sehingga masalah pemanfaatan media cetak dalam meningkatkan penguasaan materi Pendidikan Agama Kristen, merupakan masalah yang akan menarik untuk diteliti. 
Berdasarkan dari permasalahan di atas maka yang akan menjadi judul penelitian tindakan kelas ini adalah “Pemanfaatan Media Cetak Untuk Peningkatan Penguasaan Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas V SD Negeri  Tahun Pelajaran 2014/2015” 

B. Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1.    Bagaimana pengaruh media cetak dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada siswa kelas V SD Negeri?
2.    Bagaimana kompetensi guru dalam pemanfaatan media cetak untuk peningkatan penguasaan materi Pendidikan Agama Kristen siswa kelas V SD Negeri ?
3.    Bagaimana problematika dan usaha solusi yang dihadapi oleh guru dan pemanfaatan media cetak untuk peningkatan penguasaan materi Pendidikan Agama Kristen siswa kelas V SD Negeri ?   
 C. Penjelasan Istilah 
Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menyajikan beberapa penjelasan untuk menguraikan istilah-istilah yang terdapat pada kata atau kalimat yang berhubungan dengan maksud serta menjadi tujuan penulisan ini.
Hal ini penulis lakukan adalah semata-mata agar terhindar dari pola asumsi  yang salah dalam memahami isi karya ilmiah ini bagi penulis sendiri maupun para pembaca pada umumnya.  Materi merupakan salah satu unsur atau komponen yang penting artinya untuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Materi pelajaran terdiri fakta-fakta, generalisasi, konsep, hukum  atau aturan, dan sebagainya. Yang terkandung dalam mata pelajaran.
  Adapun istilah-istilah yang perlu penulis jelaskan di sini adalah: 
1. Pemanfaatan Media Cetak
 Pemanfaatan merupakan upaya menggunakan suatu benda atau alat sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan baik. Pemanfaatan merupakan aktivitas penggunaan media untuk menunjang proses belajar mengajar agar lebih efektif dan efesien. 
Media cetak adalah suatu media yang statis dan mengutamakan peran peran visual. Media ini terdiri dari buku teks, modul, buku petunjuk, lembar lepas, lembar kerja, dan sebagainya pada umumnya berisi materi pembelajaran yang dapat diakses dan dibaca oleh siswa langkah demi langkah sesuai dengan yang diinginkan.
Berdasarkan uraian di atas yang penulis maksud dengan pemanfaatan media cetak adalah memanfaatkan media cetak dalam proses belajar mengajar agar lebih efektif dan efesien.
2. Peningkatan Penguasaan Materi 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia peningkatan adalah kata kerja dengan arti: menaikkan, mempertinggi, dan memperhebat. Penguasaan adalahmproses, cara, perbuatan menguasai atau menguasakan, pemahaman atau kesanggupan untuk mengunakan pengetahuan, kepandaian. Kata penguasaan juga dapat diartikan kemampuan seseorang dalam sesuatu hal
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian 
Adapun yang menjadi tujuan dari pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut: 
1.    Untuk mengetahui pengaruh media cetak dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada siswa kelas V SD Negeri. 
2.    Untuk mengetahui kompetensi guru dalam pemanfaatan media cetak untuk peningkatan penguasaan materi Pendidikan Agama Kristen pada siswa kelas V SD Negeri . 
3.    Untuk mengetahui problematika dan usaha solutif yang dihadapi oleh guru dan pemanfaatan media cetak untuk peningkatan penguasaan  materi Pendidikan Agama Kristen pada siswa kelas V SD Negeri. 
Melaui metode penggunaan media ini, siswa dapat belajar dan membaca dengan penglihatannya sendiri dan tidak hanya mendengar metode ceramah dari guru tanpa menggunakan media, maka murid susah memahami isi dari materi pelajaran tersebut. 
BAB II
LANDASAN TOERI
 A. Definisi Media Cetak
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah “tengah, perantara atau pengantar”. Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.