BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyelenggaraan
pendidikan di sekolah memiliki kontribusi yang besar terhadap kemampuan dan
pengalaman manusia. Ada beberapa unsur penting didalam sebuah pendidikan yang
diselenggarakan di sekolah diantaranya kurikulum, pendidik dan peserta didik.
Oemar Hamalik (2013:3) menjelaskan bahwa sekolah sebagai suatu lembaga
pendidikan formal, secara sistematis merencanakan bermacam-macam lingkungan,
yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta
didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan
belajar tersebut pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan
didorong ke pencapaian tujuan yang dicitacitakan. Lingkungan tersebut disusun
dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam
bentuk proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Guru
sebagai tenaga pendidik dan murid sebagai peserta didik merupakan unsur utama
dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Tetapi Proses pembelajaran yang 3
dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target
materi kurikulum. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam
kelas yang selalu didominasi oleh guru dan kurang melibatkan murid secara
langsung.
Dalam
penyampaian materi biasanya guru menggunakan metode yang kurang bervariasi
seperti terlalu sering menggunakan metode ceramah dimana guru menjelaskan
materi sementara peserta didik hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang
disampaikan oleh guru dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak
kondusif karna peserta didik cenderung pasif serta kurang antusias dalam
mengikuti pembelajaran sehingga pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadap
materi yang disampaikan oleh guru menjadi kurang dan peserta didik hal ini
tentu dapat berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.
Belajar merupakan sebuah unsur yang
tidak dapat di pisahkan bahkan di hapuskan dalam proses pendidikan. kerena pada
dasarnya Belajar merupakan sebagai sebuah proses perubahan di dalam kepribadian
manusia dan perubahan tersebut di tampakan dalam bentuk peningkatan kualitas
dan kuantitas tingkah laku. Belajar juga dapat di artikan sebagai suatu
perubahan yang relativ permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku yang
merupakan hasil dari latihan pengetahuan (Tafsir, 2002: 60).
Dalam proses Belajar mengajar,
seorang guru dapat menentukan peningkatan Kualiatas mutu pendidikan yang
diperoleh Siswa, terutama dalam proses belajarnya. Hal itu tergantung pada
bagaimana guru bisa melakukan penguasaaan kelas, jika guru mampu mengelola
kelas dengan baik maka tujuan pemebelajaran yang diinginkanpun akan mendapatkan
hasil yang baik pula, begitupun sebaliknya. Sehingga kebutuhan ataupun tujuan
akhir yang harus diperoleh siswa yakni penguasaan siswa terhadap pengetahuan
(Kognitif), perubahan Nilai dan sikap (Afektif) dan peningkatan Keterampilan
(Psikomotor) menunjukan keberhasilan Belajar yang telah tercapainya.
Menurut Hamalik (2006:30), hasil
belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku
pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti. Sejalan dengan pendapat tersebut Sudjana (2003:3)
mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup
bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa setelah
menerima pengalaman belajar. Oleh sebab itu Hasil belajar juga menjadi tolak
ukur bagi guru dalam menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran yang dilakukannya
dan menjadi koreksi untuk perbaikan kedepannya.
Selanjutnya dari hasil observasi
yang penulis lakukan di Kelas IV SD Negeri, pada populasi penelitian, penulis
menemukan Fakta bahwa selama Proses Pembelajaran Berlangsung, kegiatan belajar
siswa hanya sebatas Duduk, mendengarkan, dan menulis kembali materi yang di
paparkan oleh guru, kemudian proses pembelajarannya cenderung berpusat pada
Guru (Teacher Centered), siswa jarang sekali untuk mengajukan
pertanyaan ataupun menanggapi apa yang diutarakan oleh guru dan lebih cenderung
Pasif dan Hasil Belajar Siswanya pun kebanyakan masih di bawah KKM yakni
berkisar Pada 50,03%.
Untuk Meningkatkan Hasil belajar dan
keaktifan Siswa tersebut, maka penulis mencoba memberikan suatu altrnatif model
pembelajaran yang berorientasi pada siswa dan membina seluruh potensi siswa.
Dalam penelitian ini penulis bermaksud untuk mencoba menerapkan Model
Pembelajaran Kooperatif tipe Take and Give. Adapun Pengertian Model
Pembelajaran Take and Give ini adalah suatu tipe pembelajaran yang mengajak
siswa untuk saling berbagi mengenai materi yang di sampaikan oleh guru, dengan
kata lain tipe ini melatih siswa terlibat secara aktif dalam menyampaikan materi
yang mereka terima ke teman atau siswa yang lain secara berulang-ulang.
Selain itu juga model pembelajaran
tipe take and give merupakan tipe pembelajaran yang memiliki tujuan untuk
membangun proses pembelajaran yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme yang
penuh dari peserta didik. serta dapat memberikan keleluasaan siswa untuk
mengekpresikan dirinya dan berinteraksi secara baik terhadap teman-temannya,
siswa juga di tantang untuk lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung,
dan juga melatih siswa untuk bekerja sama sehinggga pada akhirnya siswa dapat
menghargai kemampuan orang lain. (Siti Amaliah, 2011: 6)
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lapangan yang berjudul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan
Agama Kristen Dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Take and Give Pada Siswa Kelas
IV SD Negeri Tahun Ajaran 2015/2016”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1. Bagaimanakah
aktivitas siswa dan guru pada setiap tahapan model Pembelajaran take and give?
2. Adakah peningkatan
hasil belajar kognitif siswa kelas IV SD Negeri dengan
menerapkan model pembelajaran take and give pada bidang studi Pendidikan Agama
Kristen?
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Menegetahui aktivitas siswa dan guru pada
setiap tahapan model pembelajaran take and give.
2. Mengetahui
peningkatan hasil belajar kognitif siswa kelas IV SD Negeri setelah menggunakan model pembelajaran take and give pada bidang studi Pendidikan
Agama Kristen.
D. Manfaat
Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pengembangan pembelajaran antara
lain:
1. Bagi siswa, bisa memberikan nuanasa baru dalam
Proses pembelajaran dengan menggunakan metode belajar aktif, kreatif dan menyenangkan
yang lebih berpusat pada siswa sehingga Prestasi Belajar Kognitif siswa dapat
meningkat.
2. Bagi
guru, sebagai inovasi dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen yang berpusat
pada siswa dalam rangka peningkatan prestsi belajar kognitif siswa.
3. Bagi lembaga, dapat memberikan informasi
sebagai upaya peningkatan mutu proses pendidikan.
E. Kerangka
Berfikir
Dalam proses kegiatan belajar
mengajar, guru memegang peranan yang sangat penting. Proses belajar mengajar
yang di lakukan oleh Guru haruslah melahirkan perubahan tingkah laku yang
berarti (permanen) pada peserta didik. Perubahan tingkah laku ini dapat berupa
perubahan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. (Uus Ruswandi dan
Badrudin, 2008: 4).
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
A.
Landasan Teori
1. Pendidikan
Agama Kristen
Secara etimologi (asal usul kata), pendidikan berasal dari
kata education (Inggris), kemudian dalam bahasa Latin dipakai kata “ducere”
artinya membimbing. Berdasarkan arti etimologi ini, pendidikan dapat kita
maknai dalam pengertian “usaha membimbing ke luar.” Usaha ini tentunya
didasarkan pada kesadaran dan dalam perencanaan dan pelaksanaannya bersifat
sistematis dan berlangsung secara berkelanajutan dengan maksud untuk mewariskan
pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai serta ketrampilan-ketrampilan yang
menolong (memperlengkapi anak) dalam kehidupannya di masyarakat.
Bila arti etimologi di atas kita hubungkan dengan Kristen
maka pendidikan Kristen atau Pendidikan Agama Kristen diartikan usaha sadar,
terstruktur (sistematis) yang bertujuan memberi perubahan kepada anak dalam
kemampuan berpikir (pengetahuan), kemampuan sikap dan ketrampilannya yang
didasarkan pada nilai-nilai Kristen yang bersumber dari Alkitab sehingga
menolong anak untuk mampu hidup dalam masyarakat.
Jadi, pendidikan Kristen atau Pendidikan Agama Kristen di
keluarga, Gereja dan Sekolah Formal (Swasta dan negeri) adalah pendidikan yang
didasarkan pada upaya ilahi (tindakan Allah Tritunggal) yang mengajar melalui
atau mengajar langsung kepada anak didik (dari berbagai tingkat usia) agar
mengalami perubahan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Allah adalah pendidik utama dan pertama yang dapat mengajar
umat-Nya melalui firman-Nya yang tertulis, tetapi Allah Tritunggal juga dapat mengajar
melalui para orangtua Kristen, para guru di sekolah. Oleh karena itu maka
siapapun yang terlibat dalam mengajar dan mendidik secara iman Kristen berarti
bersedia memberi dirinya agar Allah Tringgal mengajar anak didik melalui para
orangtua, khususnya para guru di sekolah.
2. Dasar Pendidikan Agama Kristen
Landasan pembelajaran PAK merupakan acuan
atau dasar pijakan, titik tumpu atau titik tolak dalam pencapaian tujuan
pendidikan agama Kristen. Pendidikan agama Kristen yang diselenggarakan dengan
suatu landasan yang kokoh, maka prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat
tujuannya, tepat pilihan isi kurikulumnya, efisien dan efektif cara-cara
pendidikan yang dipilihnya, dst. Dengan demikian landasan yang kokoh setidaknya
kesalahan-kesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindarkan
sehingga praktek PAK diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat
dipertanggungjawabkan.
a. Kitab Ulangan 6:4-9
Dalam tradisi orang Israel “Shema” atau
perintah Tuhan yang wajib dijalankan, karena hanya dengan pedoman itu umat
tidak keluar dari pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Yang seutuhnya tersimpul
dalam sebutan “Taurat”.
Ulangan 6:4-9 sering
disebut sebagai syema, suatu
panggilan bagi Israel untuk mendengar firman Tuhan, “dengarlah..”.
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari
ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang
kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila
engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau
bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan
haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada
tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”(Ulangan 6:6-9)
Melalui Syema Israel diajar untuk memilih
persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Seluruh aspek
kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya dengan Tuhan. Di dalam cinta
ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total. Syema ini,
pertama, harus tertanam dalam hati orang Israel (ayat 6); kedua, harus
tertanam dalam hati anak-anak Israel (ayat 7); ketiga, harus menjadi bagian hidup
sehari-hari mereka (ayat 7); keempat, harus
menjadi identitas pribadi mereka (ayat 8); dan kelima,
menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel (ayat 9). Tidak ada satu
bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas dari relasi mereka yang
penuh kasih kepada Tuhan.
b. Injil Matius 28:20
Umat Kristen adalah umat Perjanjian Baru.
Dengan latar belakang Perjanjian Lama mereka hidup dalam kemurnin perintah
Tuhan Yesus. Pada saat Yesus mau meninggalkan murid-muridNya kembali ke sorga,
Ia pesankan dengan jelas perintah ini: “Dan ajarlah merela melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 28:20).
Inti dari ajaran Tuhan Yesus adalah Hukum
Kasih. Ini adalah rangkuman ringkas dari Taurat dan kitab Nabi-nabi;
1. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
2. Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37,39)[1][3]
3. Tujuan Pendidikan Agama Kristen
”Thomas M. Groome dalam bukunya yang berjudul ”Christian
Religius Education” mengedepankan bahwa tujuan pendidikan Agama Kristen adalah
agar manusia mengalami hidupnya sebagai respon terhadap kerajaan Allah di dalam
Yesus Kristus ”. Di
indonesia dalam sisdiknas Pendidikan Agama Kristen tujuannya menumbuhkan dan
mengembangkan iman serta kemampuan siswa untuk dapat memahami dan menghayati
kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara teknis operasionalnya dapat dijabarkan dalam
tujuan dan fungsinya sebagai berikut:
1. Tujuan
a. Tujuan
Umum
1. Memperkenalkan Tuhan, Bapa, Putera, dan Roh Kudus dan
karya-karyaNya.
2. Menghasilkan
manusia yang mampu menghayati imannya secara
bertanggungjawab di tengah masyarakat yang pluralistik.
b. Tujuan Khusus
Menanamkan pemahaman tentang Tuhan dan karnyaNya kepada
siswa, sehingga mampu memahami dan menghayati karya Tuhan dalam hidup manusia.
2. Fungsi
a. Memampukan
anak didik memahami kasih dan karya Tuhan dalam hidupsehari-hari
b. Membantu anak didik dalam mentransformasikan
nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar