Menu

Kamis, 04 Oktober 2018

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAKE AND GIVE PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI TAHUN AJARAN 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah memiliki kontribusi yang besar terhadap kemampuan dan pengalaman manusia. Ada beberapa unsur penting didalam sebuah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah diantaranya kurikulum, pendidik dan peserta didik. Oemar Hamalik (2013:3) menjelaskan bahwa sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan belajar tersebut pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan yang dicitacitakan. Lingkungan tersebut disusun dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik dan murid sebagai peserta didik merupakan unsur utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Tetapi Proses pembelajaran yang 3 dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru dan kurang melibatkan murid secara langsung.
Dalam penyampaian materi biasanya guru menggunakan metode yang kurang bervariasi seperti terlalu sering menggunakan metode ceramah dimana guru menjelaskan materi sementara peserta didik hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif karna peserta didik cenderung pasif serta kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran sehingga pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadap materi yang disampaikan oleh guru menjadi kurang dan peserta didik hal ini tentu dapat berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.
Belajar merupakan sebuah unsur yang tidak dapat di pisahkan bahkan di hapuskan dalam proses pendidikan. kerena pada dasarnya Belajar merupakan sebagai sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut di tampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku. Belajar juga dapat di artikan sebagai suatu perubahan yang relativ permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku yang merupakan hasil dari latihan pengetahuan (Tafsir, 2002: 60).
Dalam proses Belajar mengajar, seorang guru dapat menentukan peningkatan Kualiatas mutu pendidikan yang diperoleh Siswa, terutama dalam proses belajarnya. Hal itu tergantung pada bagaimana guru bisa melakukan penguasaaan kelas, jika guru mampu mengelola kelas dengan baik maka tujuan pemebelajaran yang diinginkanpun akan mendapatkan hasil yang baik pula, begitupun sebaliknya. Sehingga kebutuhan ataupun tujuan akhir yang harus diperoleh siswa yakni penguasaan siswa terhadap pengetahuan (Kognitif), perubahan Nilai dan sikap (Afektif) dan peningkatan Keterampilan (Psikomotor) menunjukan keberhasilan Belajar yang telah tercapainya.
Menurut Hamalik (2006:30), hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Sejalan dengan pendapat tersebut Sudjana (2003:3) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar. Oleh sebab itu Hasil belajar juga menjadi tolak ukur bagi guru dalam menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran yang dilakukannya dan menjadi koreksi untuk perbaikan kedepannya.
Selanjutnya dari hasil observasi yang penulis lakukan di Kelas IV SD Negeri, pada populasi penelitian, penulis menemukan Fakta bahwa selama Proses Pembelajaran Berlangsung, kegiatan belajar siswa hanya sebatas Duduk, mendengarkan, dan menulis kembali materi yang di paparkan oleh guru, kemudian proses pembelajarannya cenderung berpusat pada Guru (Teacher Centered), siswa  jarang sekali untuk mengajukan pertanyaan ataupun menanggapi apa yang diutarakan oleh guru dan lebih cenderung Pasif dan Hasil Belajar Siswanya pun kebanyakan masih di bawah KKM yakni berkisar Pada 50,03%.
Untuk Meningkatkan Hasil belajar dan keaktifan Siswa tersebut, maka penulis mencoba memberikan suatu altrnatif model pembelajaran yang berorientasi pada siswa dan membina seluruh potensi siswa. Dalam penelitian ini penulis bermaksud untuk mencoba menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Take and Give. Adapun Pengertian Model Pembelajaran Take and Give ini adalah suatu tipe pembelajaran yang mengajak siswa untuk saling berbagi mengenai materi yang di sampaikan oleh guru, dengan kata lain tipe ini melatih siswa terlibat secara aktif dalam menyampaikan materi yang mereka terima ke teman atau siswa yang lain secara berulang-ulang.
Selain itu juga model pembelajaran tipe take and give merupakan tipe pembelajaran yang memiliki tujuan untuk membangun proses pembelajaran yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme yang penuh dari peserta didik. serta dapat memberikan keleluasaan siswa untuk mengekpresikan dirinya dan berinteraksi secara baik terhadap teman-temannya, siswa juga di tantang untuk lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung, dan juga melatih siswa untuk bekerja sama sehinggga pada akhirnya siswa dapat menghargai kemampuan orang lain. (Siti Amaliah, 2011: 6)
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lapangan yang berjudul: Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe  Take and Give Pada Siswa Kelas IV SD Negeri  Tahun Ajaran 2015/2016.
  
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah aktivitas siswa dan guru pada setiap tahapan model Pembelajaran take and give?
2.  Adakah peningkatan hasil belajar kognitif siswa kelas IV SD Negeri dengan menerapkan model pembelajaran take and give pada bidang studi Pendidikan Agama Kristen?
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.         Menegetahui aktivitas siswa dan guru pada setiap tahapan model pembelajaran take and give.
2.  Mengetahui peningkatan hasil belajar kognitif siswa kelas IV SD Negeri setelah menggunakan model pembelajaran take and give pada bidang studi Pendidikan Agama Kristen.
D.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pengembangan pembelajaran antara lain:
1.  Bagi siswa, bisa memberikan nuanasa baru dalam Proses pembelajaran dengan menggunakan metode belajar aktif, kreatif dan menyenangkan yang lebih berpusat pada siswa sehingga Prestasi Belajar Kognitif siswa dapat meningkat.
2.  Bagi guru, sebagai inovasi dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen yang berpusat pada siswa dalam rangka peningkatan prestsi belajar kognitif siswa.
3.  Bagi lembaga, dapat memberikan informasi sebagai upaya peningkatan mutu proses  pendidikan.
E.     Kerangka Berfikir
Dalam proses kegiatan belajar mengajar, guru memegang peranan yang sangat penting. Proses belajar mengajar yang di lakukan oleh Guru haruslah melahirkan perubahan tingkah laku yang berarti (permanen) pada peserta didik. Perubahan tingkah laku ini dapat berupa perubahan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. (Uus Ruswandi dan Badrudin, 2008: 4).


BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
A.     Landasan Teori
1.  Pendidikan Agama Kristen
Secara etimologi (asal usul kata), pendidikan berasal dari kata education (Inggris), kemudian dalam bahasa Latin dipakai kata “ducere” artinya membimbing. Berdasarkan arti etimologi ini, pendidikan dapat kita maknai dalam pengertian “usaha membimbing ke luar.” Usaha ini tentunya didasarkan pada kesadaran dan dalam perencanaan dan pelaksanaannya bersifat sistematis dan berlangsung secara berkelanajutan dengan maksud untuk mewariskan pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai serta ketrampilan-ketrampilan yang menolong (memperlengkapi anak) dalam kehidupannya di masyarakat.
Bila arti etimologi di atas kita hubungkan dengan Kristen maka pendidikan Kristen atau Pendidikan Agama Kristen diartikan usaha sadar, terstruktur (sistematis) yang bertujuan memberi perubahan kepada anak dalam kemampuan berpikir (pengetahuan), kemampuan sikap dan ketrampilannya yang didasarkan pada nilai-nilai Kristen yang bersumber dari Alkitab sehingga menolong anak untuk mampu hidup dalam masyarakat.
Jadi, pendidikan Kristen atau Pendidikan Agama Kristen di keluarga, Gereja dan Sekolah Formal (Swasta dan negeri) adalah pendidikan yang didasarkan pada upaya ilahi (tindakan Allah Tritunggal) yang mengajar melalui atau mengajar langsung kepada anak didik (dari berbagai tingkat usia) agar mengalami perubahan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Allah adalah pendidik utama dan pertama yang dapat mengajar umat-Nya melalui firman-Nya yang tertulis, tetapi Allah Tritunggal juga dapat mengajar melalui para orangtua Kristen, para guru di sekolah. Oleh karena itu maka siapapun yang terlibat dalam mengajar dan mendidik secara iman Kristen berarti bersedia memberi dirinya agar Allah Tringgal mengajar anak didik melalui para orangtua, khususnya para guru di sekolah.
2.    Dasar Pendidikan Agama Kristen
Landasan pembelajaran PAK merupakan acuan atau dasar pijakan, titik tumpu atau titik tolak dalam pencapaian tujuan pendidikan agama Kristen. Pendidikan agama Kristen yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh, maka prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat tujuannya, tepat pilihan isi kurikulumnya, efisien dan efektif cara-cara pendidikan yang dipilihnya, dst. Dengan demikian landasan yang kokoh setidaknya kesalahan-kesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindarkan sehingga praktek PAK diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat dipertanggungjawabkan.
a.  Kitab Ulangan 6:4-9
Dalam tradisi orang Israel “Shema” atau perintah Tuhan yang wajib dijalankan, karena hanya dengan pedoman itu umat tidak keluar dari pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Yang seutuhnya tersimpul dalam sebutan “Taurat”.
Ulangan 6:4-9 sering disebut sebagai syema, suatu panggilan bagi Israel untuk mendengar firman Tuhan, “dengarlah..”.
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”(Ulangan 6:6-9)
Melalui Syema Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total. Syema ini, pertama, harus tertanam dalam hati orang Israel (ayat 6); kedua, harus tertanam dalam hati anak-anak Israel (ayat 7);  ketiga, harus menjadi bagian hidup sehari-hari mereka (ayat 7); keempat, harus menjadi identitas pribadi mereka (ayat 8); dan kelima, menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel (ayat 9). Tidak ada satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas dari relasi mereka yang penuh kasih kepada Tuhan.
b.  Injil Matius 28:20
Umat Kristen adalah umat Perjanjian Baru. Dengan latar belakang Perjanjian Lama mereka hidup dalam kemurnin perintah Tuhan Yesus. Pada saat Yesus mau meninggalkan murid-muridNya kembali ke sorga, Ia pesankan dengan jelas perintah ini: “Dan ajarlah merela melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 28:20).
Inti dari ajaran Tuhan Yesus adalah Hukum Kasih. Ini adalah rangkuman ringkas dari Taurat dan kitab Nabi-nabi;
1. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap   jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
2. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37,39)[1][3]
3. Tujuan Pendidikan Agama Kristen
”Thomas M. Groome dalam bukunya yang berjudul ”Christian Religius Education” mengedepankan bahwa tujuan pendidikan Agama Kristen adalah agar manusia mengalami hidupnya sebagai respon terhadap kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus ”. Di indonesia dalam sisdiknas Pendidikan Agama Kristen tujuannya menumbuhkan dan mengembangkan iman serta kemampuan siswa untuk dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara teknis operasionalnya dapat dijabarkan dalam tujuan dan fungsinya sebagai berikut:
1. Tujuan
       a. Tujuan Umum
1. Memperkenalkan Tuhan, Bapa, Putera, dan Roh Kudus dan karya-karyaNya.
2.  Menghasilkan manusia yang mampu menghayati imannya secara   bertanggungjawab di tengah masyarakat yang pluralistik.
b. Tujuan Khusus
Menanamkan pemahaman tentang Tuhan dan karnyaNya kepada siswa, sehingga mampu memahami dan menghayati karya Tuhan dalam hidup manusia.
2. Fungsi
a.  Memampukan anak didik memahami kasih dan karya Tuhan dalam hidupsehari-hari
b. Membantu anak didik dalam mentransformasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar